Kembali
Umum Rabu, 18 Juni 2025 199 dilihat

Kegiatan Rutin Bulanan Dharma Wanita Persatuan Kantor Kemenag Kota Batam Angkat Budaya Melayu Lewat Tema "Mengenal Nasi Besar"

Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kota Batam menggelar pertemuan rutin bulanan dengan mengusung tema “Mengenal Nasi Besar sebagai Budaya Melayu Kepri”. Kegiatan ini berlangsung di aula Kankemenag Kota Batam dan turut hadir Kasubag TU, Magdalena Silfia diikuti oleh para ibu ASN di lingkungan kantor tersebut.

A

Admin Portal

Redaksi

Kegiatan Rutin Bulanan Dharma Wanita Persatuan Kantor Kemenag Kota  Batam Angkat Budaya Melayu Lewat Tema "Mengenal Nasi Besar"

Batam (Kemenag) – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kota Batam menggelar pertemuan rutin bulanan dengan mengusung tema “Mengenal Nasi Besar sebagai Budaya Melayu Kepri”. Kegiatan ini berlangsung di aula Kankemenag Kota Batam dan turut hadir Kasubag TU,  Magdalena Silfia diikuti oleh para ibu ASN di lingkungan kantor tersebut.

Pertemuan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dharma Wanita, dilanjutkan dengan doa dan sambutan dari Ketua DWP Kankemenag Kota Batam,  Masdiah, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa budaya lokal seperti nasi besar merupakan warisan berharga yang dapat mempererat kebersamaan dan memperkuat karakter masyarakat.

“Salah satu kekayaan budaya Melayu yang perlu kita lestarikan adalah tradisi nasi besar. Budaya ini bukan hanya sebatas makanan, tapi sarat makna dan nilai kebersamaan,” ujar Masdiah.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber, H. Muhammad Zen, S.Pd. Sebelumnya, peserta diberikan gambaran mengenai latar belakang narasumber yang merupakan Kabid Kebudayaan dari Dinas Pariwisata dan juga seorang tokoh Budaya Melayu melalui pembacaan portofolio beliau.

Dalam pemaparannya, Zen (sapaan akrabnya) menjelaskan bahwa nasi besar merupakan hidangan khas Melayu yang sering disajikan dalam acara-acara kebesaran seperti pernikahan, khataman Al-Qur’an, dan khitanan. Uniknya, ‘nasi’ yang dimaksud sebenarnya adalah ketan, yang dipilih karena daya rekatnya yang tinggi, sebagai simbol eratnya hubungan kekeluargaan dan kebersamaan.

Nasi besar biasanya disajikan lengkap dengan hiasan seperti bunga, bunga telur, dan pahar—wadah dulang berkaki—yang menjadi simbol kemuliaan dan penghormatan. Dalam tradisi pernikahan, misalnya, nasi besar disiapkan oleh orang tua mempelai. Sementara itu, dalam khataman Al-Qur’an, nasi besar diberikan sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan kepada guru ngaji. Adapun pada tradisi khitanan, dulunya nasi besar disuguhkan usai prosesi oleh mudim atau tukang sunat.

Ia juga menyinggung istilah “makandam”, yaitu prosesi menggantikan peran mamak (paman) oleh perwakilan keluarga saat pernikahan, yang kerap dilengkapi dengan sajian nasi besar. Kemdian dilanjutkan dengan praktik langsung menghias pahar dan membuat bunga kertas, yang dipandu oleh narasumber

Acara ditutup dengan makan bersama, di mana seluruh peserta menikmati sajian yang sudah disiapkan oleh panitia, sembari mempererat tali silaturahmi antar anggota.

Berita Terkait